Misteri Minyak Bintang Suku Dayak, Bisa Hidupkan Orang Mati?

BANJARMASIN, NETRALNEWS.COM – Adakah di antara Anda yang pernah mendengar nama Minyak Bintang? Mungkin bagi masyarakat pulau Kalimantan tidaklah asing mendengar nama Minyak Bintang.

Minyak Bintang adalah sejenis obat yang memiliki banyak manfaat.  Minyak bintang adalah sejenis minyak ajaib kedigdayaan atau minyak kesaktian yang sangat ampuh di daratan Kalimantan.

Keampuhan minyak Bintang suku Dayak adalah mengobati luka-luka berat seperti patah tulang, tulang remuk, luka bacok, bahkan dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa Minyak Bintang dapat  dipergunakan untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati,karena terbunuh?

Keampuhan Minyak Bintang dalam menyembuhkan orang yang mengalami luka-luka parah seperti tersebut di atas, bekerja dalam waktu relatif singkat, yaitu berkisar antara setengah malam saja di bawah sinar bintang.

Apakah benar Minyak Bintang memiliki keampuhannya? Tidak bermaksud untuk promosi minyak ini, yang kebetulan editor milikinya. Tetapi, inilah kisah, seperti yang dituturkan seseorang.

Kisah bermula di tahun 2001, saat terjadi Kerusuhan Tragedi Sampit, kebetulan di saat kerusuhan itu, kejadian yang mendadak berlangsung secara tak terduga, membuat orang yang bercerita ini panik namun naas, saat dirinya berusaha untuk menjauh dari kerusuhan, namun tanpa terduga, dirinya tersambar tombak yang terlempar dari seseorang di antara yang terlibat dalam tawuran.

Sambaran tombak itu tepat pada bagian dada sebelah kanan dan mengakibatkan luka robek menganga dan juga menggores tulang dada sepanjang satu jengkal, aden terkejut dan menjerrit kesakitan. Orang ini bertanya dalam hati, kenapa dirinya ikut jadi sasaran.Padahal, dipiki, dirinya bukanlah target dari pihak yang bertikai.

Merasakan sakit yang luar biasa, tiba-tiba aden ambruk tak sadarkan diri.Sejurus kemudian, dirinya tersadar, namun dia melihat sekeliling gelap gulita dan yang ada hanyalah pondok kecil terbuat dari kayu seadanya dan pepohonan.

Tampaknya aden telah dibawa ke dalam hutan oleh sekelompok orang Dayak hingga malam. Dirinya meraba dada sebelah kanan yang terluka tadi siang menjelang sore. Sungguh ajaib, lukanya  telah hilang, hanya menyisakan seperti bekas luka yang sudah menahun.

Dia melihat sekelompok orang yang sedang memanggang sesuatu, lalu dia pun memanggil dengan bahasa Banjarmasin,

”Maap mang, ulun di mana ini kah ?”

“Ikam tenang haja mas, ikam ada sama kami, tadi siang ikam kana timpas tombak kawan akuh, tapi ikam kami sembuhakan lawan minyak bintang”.

Dirinya benar-benar kaget, dan sungguh kaget!

“Apa ?”

“Tenang haja, Mas, ikam kada menelanya, cuma dioles haja, kami minta maaf”.

Aden kembali meraba dada seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi, “lukaku hilang…?”  Dirinya berkata dalam hati.

Seminggu lamanya dirinya berada dalam persembunyian orang-orang bertelanjang baju dan berikat kepala merah. Sesekali dirinya ditinggal dalam kesendirian ditinggal entah ke mana oleh mereka. Tetapi,  sebongkah daging rusa bakar hasil buruan mereka, cukup untuk mengganjal perut yang kelaparan beberapa hari.

Mengenai keajaiban penyembuhan luka yang dialaminya secara misterius. Dia mengalami  secara misterius. Dia pun penasaran ingin tahu lebih jauh, apa itu Minyak Bintang.

Singkat cerita, dengan bantuan seorang sahabat di antara mereka dari suku Dayak Asli yang kemudian dirinya ketahui bernama Alban. Dia dibawa ke suatu daerah asing jauh di tengah hutan, melalui perjalanan yang menyusuri sungai dengan sampan kecil tak bermesin, dan memakan waktu hingga dua hari dua malam, ditambah dengan perjalanan kaki selama sehari penuh.

Sampailah dia pada sebuah pemukiman kecil, dan Alban memperkenalkan diri pada seorang ahli Minyak Bintang bernama Datuk Maluna.

Secara kebetulan, pada saat itu sedang ada ritual penyembuhan dengan metode Minyak Bintang  terhadap dua orang yang masing-masing mengalami luka bacok cukup dalam di punggungnya dan seorang yang mengalami patah tulang kaki akibat kecelakaan kerja di sebuah penambangan emas ilegal di daerah sekitar.

Konon katanya, tanpa disadari saat sibuk menambang, sebuah bongkahan batu granit sebesar drum menggelinding tak terkndali dari atas lubang galian dan menimpa kaki, dan mengakibatkan tulang betisnya patah dan mencuat keluar dari kaki.

Karena sedang ada ritual penyembuhan, dia dipersilahkan menginap lagi di sebuah pondokan kecil yang terbuat dari kayu, berpagar kulit pohon meranti dan beratap sirap daun lontar, yang berdekatan dengan acara ritual penyembuhan itu bersama Alban.

Obrolan kecil dengan bahasa Banjarmasin bercampur Indonesia bersama Alban pun jauh kesana kemari sambil sesekali melirik beberapa orang yang tampak menari-nari sambil sesekali berjingkat-jingkat mengelilingi sesosok tubuh manusia yang digantung terbalik dan sesekali dihujam dengan tombak hingga darahnya mengucur ke sebuah wadah yang diletakan tepat di bawahnya. Sebuah ritual yang lain di luar dari prosesi penyembuhan.

Tetapi,  berada di tempat yang sangat asing dan primitif membuat ny tak memiliki selera untuk tidur. Matahari bersinar, terlihat seseorang keluar dari dalam salah satu pondok yang terpisah dari pondok utama milik Datuk Maluna.

Apa yang terlihat, orang yang kemarin sore nampak terkapar bersimbah darah dengan luka menganga di punggungnya, kini nampak segar bugar tanpa bekas luka sedikit pu. Itu artinya lukanya telah sembuh total.

Beberapa menit kemudian muncul lagi seorang bernama Suryono yang kemarin sore menggelepar-gelepar kesakitan karena tulang kakinya mencuat keluar , kini sudah bisa berjalan walau sedikit agak tertatih.

Setelah dilakukan ritual penyembuhan dengan Minyak Bintang, semuanya dapat sembuh kembali dengan hasil kesembuhan total.