perjalanan spiritual

Untuk melahirkan sesuatu dikala sepi perlu melalui 2 tahap
1. Tahap pertama adalah tahap sepi dalam batin. Sepi dalam hal ini bukanlah sepi karena tidak ada suara apapun, sepi disini merupakan pengalaman batin yang dialami seseorang ketika ia benar2 merasakan keheningan.
2. Tahap kedua adalah tahap pemusatan cipta atau diamnya cipta. Sepi dalam tahap kedua ini merupakan sarana untuk lepasnya Sang Sukma (Atma) dari badan, sepi dalam tahap ini juga yang dikenal dengan kalimat “diendapkan didalam lubuk hati (dipusatkan didalam guwa laya)”.
Saat sepi cipta, sepi pikiran terjadi maka diri manusia terasa dialam yang suwung. Pada kondisi ini banyak orang yang tidak berani melanjutkan, karena terlihat seperti dialam nyata yang sangat sepi. Keadaan yang sudah tidak bisa dibedakan antara alam mimpi dan alam nyata.
Dalam keadaan yang demikian ini seseorang merasa menjadi pribadi yang mandiri dan ia merasakan bahwa di alam ini hanya ada dirinya.
Agar tidak goyah oleh godaan yang menampakkan diri dalam keheningan puncak, para pelaku diwajibkan menempuh jalan kesucian terlebih dahulu. “jalan iman dan amal saleh”.
Keadaan hening puncak inilah yang akan menjadi pembuka tabir yang menyelimuti hidup ini. Keadaan ini berawal dari rasa sadar dan tansadar, jaga dan tidur, akhirnya menjadi terang seperti orang yang bermimpi jelas tiada penghalang. Bahkan ia dapat melihat segala sesuatunya lebih nyata daripada yang terlihat oleh mata fisik ini. Pada saat itu ia tak boleh merasakan ketakutan atau kesengsem (terpesona) terhadap hal2 yang mengagumkan dirinya. Pada saat itu ia bisa mendengarkan wawancara (percakapan) antara jiwa dan sukma (atma) nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *