pembuka tabir alam ruh

*Mengenal Konsep Membuka Tabir Ruhiyah*

Ruh di dalam diri manusia akan mencahayai perilaku seseorang jika tidak tertutup hijab. Karena sesungguhnya Ruh adalah sifat-sifat Ilahiyah di pusat kesadaran kita sendiri. Dimana ketika hijab itu terbuka, kita akan selalu merasakan kehadiran Alloh dalam seluruh kesadaran.

Secara garis besar, alam kesadaran kita ini terdiri dari dua tingkatan, yaitu “alam sadar” dan “alam bawah sadar”. Atau “alam permukaan dan bawah permukaan”. Alam sadar adalah alama yang bisa dirasakan dan dikendalikan secara sengaja oleh jiwa yang sadar. Sedang alam baqah sadar adalah alam yang pada umumnya tidak bisa kita kendalikan secara sengaja. Kecuali lewat latihan dan tatacara tertentu, itupun tidak bisa sepenuhnya (jare ku).

Alam sadar adalah mekanisme jiwa yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh, di dunia maupun di akhirat. Sedangkan alam bawah sadar, adalah mekanisme jiwa yang merekam gejolak jiwa dan sekaligus menjadi jalan untuk memasuki alam universal. Jadi, alam bawah sadar ini menjadi “pintu” yang bisa “membuka” dan “menutup” arus kesadaran dari permukaan ke bagian yang lebih dalam, dimana Ruh Ilahiyah bersemayam. Inilah yang disebut hijab ketika “pintu” itu menutup. Dan disebut sebagai Ma’rifatulloh ketika “pintu” itu membuka.

Bahwa diri manusia memiliki lapisan-lapisan yang bertingkat-tingkat kehalusannya. Yakni, yang paling luar adalah badan, yang mewakili alam materi (sudah saya tulis tentang alam yang paling rendah). Kemudian, yang lebih dalam adalah Jiwa, yang mewakili alam energi. Dan, yang paling dalam serta paling halus adalah Ruh, yang mewakili sifat-sifat ketuhanan.

Lebih rinci lagi, bahwa jiwa menjadi jembatan antara alam materi dan alam ilahi, alias antara badan dan ruh. Tetapi, jiwa itu sendiri memiliki tingkatan-tingkatan yang semakin ke dalam semakin halus, sehingga membentuk “langit” di dalam diri. Yang bila diurutkan akan berjumlah tujuh, sebagaimana langit alam semesta, makrokosmos (jawa, jagad gede).

Langit di dalam diri itu saya sebut jagad cilik, yang diluar diri atau alam semesta sebagai jagad gede. Itu pemahaman saya lho, ojo diseneni soale aku nangisan 😁. Kedua-duanya membentuk alam yang kita kenali sebagai alam kesadaran universal, yaitu dunia dimana kita hidup dan memahami kenyataan. Semakin ke dalam semakin “halus”, semakin keluar semakin “kasar”. Tetapi, keluar maupun kedalam akan bertemu sosok tak tergambarkan, Dzat yang meliputi seluruh alam semesta.

Eksistensi Alloh di dalam diri itu memang tidak untuk dilihat, melainkan untuk dirasakan. Karena cahaya-Nya sudah merembes dan meresap kedalam seluruh eksistensi nya, sehingga jiwanya ikut berpendar dikarenakan dilalui cahaya-Nya yang memancar dari ruhnya. Kok bisa? Bagaimana caranya? Yang demikian itu bisa terjadi, kata ayat, karena ia datang kepada Alloh dengan hati yang bertaubat. Sebuah sikap yang menjadi “syarat utama terbukanya hijab jiwa”.

Pertaubatan itulah yang membuat sikap hatinya menjadi rendah. Bukan hati yang tinggi dan sombong. Kerendah hatian itu pula yang menyebabkan tensi jiwa menjadi rileks. Di ayat yang berbeda, Alloh menyebut orang-orang itu menghadap Alloh dengan hati yang bersih dan jernih (qolbun salim). Jiwa yang rileks secara spiritualistik, alias jiwa yang berserah diri.

Maka perjalanan spiritual ke dalam diri kita adalah perjalanan melintasi cahaya demi cahaya yang bertingkat-tingkat. Perjalanan cahaya ini adalah perjalanan lanjutan ketika hijab kegelapan sudah tersingkapkan. Yakni, ketika seseorang sudah melakukan pengakuan dosa dan pertaubatan, Alloh akan memperjalankan batinnya untuk melintasi cahaya-cahaya tersebut.

Jiwa kita sebenarnya hanya berfungsi untuk memantulkan cahaya Ilahiyah yang bersumber dari ruh. Bagaikan cahaya bulan, yang sebenarnya juga cahaya pantulan dari matahari yang menyinarinya, dan kemudian terlihat dari bumi.

Sudah banyak menulis, namun belum bisa menuangkan semua yang ada dikarenakan keterbatasan saya yang dhoif. Hanya sekedar berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *