Manunggaling Kawulo Gusti

Sesungguhnya perjalanan terjauh adalah menuju ke dalam diri sendiri. Ujung dari perjalanan ke dalam diri sendiri, yang berhilir pada mawas diri dan berhulu pada kenal diri, adalah samudera Makrifatulloh berupa pengalaman syahadat. Mengalami ketiadaan diri, meniada, dan hanya Alloh yang Ada, Ia menyatu, tetapi tidak menjadi satu.

Sesungguhnya, mendekati Alloh sangatlah mudah. Justru yang lebih susah, paling susah, dan pasti selalu gagal adalah menjauh dari Alloh. Sejauh apapun dari Alloh, ia, siapapun ia, sesungguhnya tidak ke mana-mana. Ia berada di dalam lingkaran ke Maha Agung an Alloh. Tidak ada yang di luar-Nya. Pun tak ada yang luput dari jangkauan-Nya. Tidak ada zona bebas Alloh, jangankan Tuhan, atau malaikat ‘Izroil, semut pun bisa menemukan kita kendati kita bersembunyi di liang bumi terdalam sekali pun.

Bagaimana pun, ajaran Manunggaling Kawulo lan Gusti seyogyanya dipahami sebagai meniadanya sang hamba dan tinggal Sang Tuan saja yang Ada. Kawulo (hamba) tidak menjadi Gusti (Tuan), dan Gusti tidak menjadi kawulo. Tidak ada Gusti baru, tidak ada kawulo baru. Kedudukan Gusti dan kawulo sempurna dan tetap sebagai kesempurnaan. Dia yang disebut Kholiq adalah ketika menciptakan, yang disebut makhluk adalah ia yang diciptakan. Jembatan antara pencipta dan ciptaan-Nya adalah af’al (perbuatan) mencipta, dengan af’al mencipta inilah Alloh mengimplementasikan Diri-Nya ke dalam ciptaan. Sesungguhnya, dalam Manunggaling Kawulo lan Gusti, yang terjadi atas diri kawulo terhadap Gusti, bukanlah menyatu, melainkan tidak memisah. Karena siapakah yang bisa memisahkan diri dari Alloh? Sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu.

Inilah esensi dari Wahdat Al-Wujud, seperti buih dan samudera. Buih bergerak sebagai ombak, sebagai badai, bergulung, bergelombang, pasang, surut, ataupun menguap, bukan dan sungguh bukan karena daya dan upayanya sendiri. Ada kekuatan semesta yang bekerja untuk menghidupkannya, memahami angin, gerak dan bahasa tubuh (gesture) bumi, tumbuhan, binatang, hingga cahaya dan panas matahari, serta hal-hal tidak tampak yang tidak dapat disebut. Senyawa-senyawa yang saling mengasuh dan mengolah ini menegaskan bahwa tiap makhluk sesungguhnya bekerja sama untuk tujuan yang sama : manunggal.

Apa yang kita sangka mati sesungguhnya hidup, apa yang kita sangka hidup, kelak mati. Tidak selamanya yang tidak tampak bergerak itu tidak bergerak, tidak selalu yang terlihat diam itu benar-benar diam. Sekujur tubuh makhluk di bumi terkena tipu daya gravitasi sehingga tak merasakan bahwa rotasi bumi berkecepatan mencapai 1.667 km/jam atau 463 m/detik,dan hebatnya, tidak ada makhluk yang berjatuhan. Diamnya bumi ternyata bergerak sangat cepat.

Setetes buih adalah samudera nan luas, tetapi tidak demikian sebaliknya. Tiap-tiap hal dalam kehidupan memiliki tata caranya masing-masing untuk beribadah dan kembali kepada Tuhannya, dan tiada yang lebih benar dari Tuhan, tak ada pula tujuan kembali selain kepada Tuhan Yang Maha Benar. Merindukan oase bernama harapan untuk diampuni dan diterima kembali sesuai fitrah, sesuai keadaan semula. Penghujung dari asa itu adalah kerinduan pada Ilahi Robbi.

Pada mulanya sampai akhirnya, setiap makhluk menyatu, tetapi tidak menjadi satu dengan Sang Kholiq, menyatu, tetapi tidak menjadi Satu. Inilah hakikat dari kemanunggalan dalam makna tidak memisah dan tidak pernah bisa memisah.

Bersemayam pada titik nol kilometer pada diri setiap aku, ingatlah bahwa tangis dan tawamu hanya berlebihan saat kau lupa bahwa hidup hanyalah panggung dari naskah semesta yang belum kau baca…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *