*Mengenal Konsep ‘Ain Bashiroh (Mata Hati/Batin)*

Hati kita adalah cermin yang sudah dipoles. Kita harus senantiasa membersihkan lapisan debu yang menempel di atasnya hingga bening, karena hati kita ditakdirkan untuk merefleksikan cahaya rahasia-rahasia Ilahi. Fungsi cermin adalah memantulkan bayangan yang ada didepannya. Lalu, apakah yang direfleksikan hati kita? Apakah yang dimaksud “cahaya rahasia-rahasia Ilahi” itu?

Pikiran yang telah menjadi cermin yang sempurna juga bisa diibaratkan danau yang amat tenang. Pantulan apapun diatas danau itu tampak jelas dan sempurna, tetapi jika kita melemparkan batu kedalamnya, pantulan dipermukaan danau itu akan rusak. Untuk menjadi cermin yang sempurna dibutuhkan ketenangan dan kedamaian batiniah.

Namun, tidaklah mudah menjadi seperti itu tanpa pengharapan, hasrat, serta keterikatan pada kepercayaan dan pendapat kita sendiri. Jika hati kita bersih, niscaya kita dapat benar-benar memahami oranglain. Dalam tasawuf kita sering berbicara tentang roobithoh al-qolb, hubungan hati.

Hubungan hati berkembang dari cinta dan perhatian. Dalam hal ini kita mencari cara untuk mengembangkan hati yang welas asih, hati yang berempati dengan hati dan perasaan oranglain. Hati kita biasanya teralihkan oleh pikiran-pikiran tentang masa lampau dan harapan-harapan akan masa datang. Hati kita penuh dengan segala hal yang kita inginkan; tidak ada ruang bagi kasih sayang atau bahkan cinta kepada Tuhan.

Kita dapat mengingat Tuhan sepanjang hari dengan menanamkan dalam pikiran bahwa Tuhan ada di hati setiap orang yang kita jumpai. Ketika kita menyadari hal itu maka berhubungan dengan oranglain tidak lagi menjadi pengalih perhatian dari mengingat Tuhan, tetapi bagian tak terpisahkan dari mengingat-Nya.

Cara ini semakin meneguhkan apa yang kita sebut melayani orang lain, mengasihi dan menghormati mereka. Dengan kata lain, kita harus selalu menganggap oranglain itu lebih baik dari kita. Ini merupakan perilaku yang baik, tetapi tidak mudah dijalani. Kita cenderung melakukan yang sebaliknya. Nafsu kita bersikukuh bahwa kita lebih baik dari semua orang. Kita katakan pada diri kita sendiri, “ah, usia mereka tidak setua aku, aku yakin mereka tidak secerdas dan sealim diriku, aku yakin mereka lebih banyak berbuat dosa dan sebagainya.” Ego kita terus bersikap seperti itu sepanjang waktu, setiap saat.

Cinta kita kepada oranglain merupakan pondasi bagi cinta kita kepada Tuhan, melihat Tuhan dalam diri oranglain dilakukan dengan cara senantiasa memoles hati kita seraya terus berdzikir mengingat-Nya. Semakin dalam citra Tuham tertanam dalam hati kita, niscaya citra tersebut akan bertahan dan menutupi semua gambaran lain, semakin besar hati kita memantulkan cahaya Ilahi dari seluruh yang ada disekeliling kita dan dzikir kita pun akan menjadi semakin otomatis. Simbah mengatakan “pada awalnya kamu melakukan dzikrulloh, kemudian dzikrulloh yang melakukan dirimu, dan akhirnya akan menjadi dzikrulloh. Agar kita bisa mewujudkan relasi seperti itu, maka kita harus menggunakan kehendak kita untuk mengingat Alloh. Setelah itu, dzikir kepada Alloh akan berjalan dengan sendirinya. Dzikir memiliki mekanisme dan daya hidupnya sendiri.

Mohon maaf atas kesalahan dan kekurangan tulisan diatas, semoga bisa menjadi manfaat 🙏🙏🙏🙇

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *