Kajian Sedulur Papat Kalimo Pancer dalam pelajaran Sangkan-Paraning Dumadi atau Asal-Muasal Kejadian dalam tradisi kearifan Jawa menempatkan air ketuban, plasenta, darah, dan tali pusar sebagai empat saudara bagi janin. Keempatnya adalah saudara semasa dalam rahim yang sama-sama keluar dari mulut rahim Ibu. Sedangkan yang disebut Pancer adalah janin itu sendiri, yang kelak tumbuh sebagai manusia paripurna, masuk ke Alam Insan Kamil (Manusia Sempurna) dan menemukan jalan pulang ke asal. Ingsun, demikian falsafah Jawa menyebut diri sendiri.

Masih ada pula empat saudara yang keluar bukan dari mulut rahim Ibu, bukan pula dorongan kuat Ibu saat persalinan, tetapi karena getaran dahsyat tiupan ruh, yaitu nafsu muthmainnah, nafsu sufiyah, nafsu amaroh, dan nafsu lawwamah. Kuatnya getaran bahkan menyebabkan keempat nafsu itu keluar dari jasad dan terlepas dari selubung ruh dan justru ganti menyelubungi ruh dan jasad. Inilah yang menyebabkan bayi meronta keras dan menangis. Selain bahwa tangisan itu terdorong dari embusan pertama napas bayi, setelah ia terlepas dari jalan napas dalam rahim Ibu, tangis dipicu oleh sakitnya penyelubungan keempat nafsu terhadap ruh dan jasad.

Inilah awal mula manusia dikuasai oleh nafsu-nafsunya. Dalam pewayangan, empat nafsu diibaratkan empat kuda yang menarik kereta kencana sebagai simbol jasad. Pemegang kendali atas kereta kencana dan kuda-kuda itu adalah kusir, yang tidak lain tidak bukan adalah ruh. Namun, dalam kehidupan, yang terjadi justru sebaliknya : ruh menjadi kuda, dan kuda menjadi kusir. Inilah dalam renungan Budha Gautama yang menjadikan manusia mudah letih, sakit, tua, dan mati. Karena ruh dan jasad yang diperdaya nafsu.

Keadaan ini bisa dipulihkan, dikembalikan ke keadaan semula yaitu, ruh menyelubungi jasad yang di dalamnya terkandung nafsu, atau setidaknya diatasi agar tidak menjadi lebih buruk, dengan cara melafalkan adzan ke telinga jabang bayi pada kesempatan pertama sejak ia dilahirkan. Didalam adzan termaktub syahadat yang menjelma ingatan pertama jabang bayi manusia terhadap asal-muasal kejadian dan kebersaksiannya tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh.

Jika tidak segera dipulihkan, jabang bayi akan tumbuh dalam asuhan gaib empat nafsu. Ia mulai berpaling dari Alloh, kepada dunia. Berkembang sebagai manusia yang mengalami lupa, menyukai berdebat dan berbelahan, dan benci untuk mengingat Alloh dan mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran. Ia akan mudah terbujuk oleh rayuan nafsunya sendiri, yang dalam QS Al-Naas [114] disebut sebagai setan dari golongan manusia, dari golongannya sendiri.

Seorang Guru Ilmu Kasumpurnan di daerah Jawa Tengah (Nama dan Alamat sengaja tidak dicantumkan untuk privasi yang bersangkutan), mengajarkan bahwa keadaan itu masih bisa ditanggulangi dengan mengenal diri sendiri. Dari mengenal diri sendiri itulah, manusia akan bertemu Diri Sejati dan mendapatkan jalan kembali kepada Tuhannya. Langkah menuju sana dimulai dari menyapa empat saudara manusia itu dalam keseharian, dan sedikit demi sedikit mulai mengambil kendali atas mereka, dan pada akhirnya melakukan pangracutan (pelepasan) selubung nafsu terhadap ruh dan jasad.

“Sedulurku kiblat papat kalimo pancer, ibu bumi, bopo angkoso, nini among, aki among, sing momong jiwo rogoku”. Artinya “wahai saudaraku dari keempat penjuru, yang kelima adalah aku sendiri sebagai pusatnya, bumi sebagai ibu, langit sebagai ayah, leluhur dari ibu, leluhur dari ayah, yang mengasuh jiwa ragaku,” demikian sapaan kepada keluarga-diri yang tidak tampak. Beliau mengajarkan betapa manusia yang setiap hari berjumpa, menyapa, bercengkerama, dan bergaul dengan sesamanya, seyogyanya juga menjumpai, menyapa, bercengkerama, dan bergaul dengan dirinya sendiri agar keempat nafsunya itu tidak menjadi lawan, melainkan menjadi kawan perjalanan. Jika ruh menjadi selubung atas jasad, maka ruh kelak membawa jasad berpulang (ruh mulih sak jasad e). Moksa.

“Ilmu itu tercapai jika dijalani, untuk menjalaninya perlu dana, dana sesungguhnya adalah kekuatan, kekuatan bersabar mampu memberantas jahatnya pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *