Banyak yang bertanya akan hal tersebut (ghoib) yang merupakan salah rukun iman, sedikitnya saya mencoba memberanikan diri untuk berbagi dengan kedangkalan pengetahuan saya.

Mengimani Keghoiban. Mengimani bahwa selain yang tampak, ada yang tidak tampak, dan sesungguhnya yang tidak tampak itu lebih agung daripada yang tampak. Untuk mengenali diri, manusia selama ini beranggapan bahwa dirinya makhluk yang tampak, bolehlah meneliti ulang tubuhnya. Lebih banyak mana antara bagian tubuhnya yang tampak dan yang tidak tampak?😄

Bukankah yang tampak hanya kulit dan organ-organ diatas kulit? Bukankah yang tidak tampak, yang tersembunyi dibawah permukaan kulit, jauh lebih banyak? Bukankah manusia tidak pernah benar-benar melihat sendiri anggota badannya yang tidak tampak itu? Bukankah untuk melihat organ tubuhnya yang tidak tampak itu manusia membutuhkan alat bantu? Bahkan, untuk menyentuh secara nyata bagian tubuh dibawah permukaan kulit itu, tidak bisa tidak, manusia harus dibedah? Bukankah itu menyakitkan dan menyakiti?😥

Jelaslah bahwa betapa sesungguhnya manusia yang mengaku sebagai makhluk dhohir, makhluk tampak, sesungguhnya adalah makhluk bathin, makhluk tidak tampak. Makhluk Ghoib. Lebih banyak anasir tidak tampak dalam diri manusia. Bukan hanya organ tubuh dibawah permukaan kulitnya, masih ada pula jiwa, ruh, dan hati (qolbu) yang sangat vital meski tidak tampak. Perasaan dan pikiran pun tidak tampak wujudnya. Abstrak sekaligus Absurd, karena sering tidak sejalan ikhwal pemiliknya tidak bisa membedakan mana pikiran, mana perasaan. Manusia, tidak mengenal dirinya sendiri.

Pun hal-hal tidak tampak dalam diri manusia yang justru lebih sering mempengaruhi hal-hal tampak. Tensi darah yang naik bisa melumpuhkan organ tubuh yang tampak. Detak jantung yang berdegup kencang bisa membanting sekujur tubuh yang tampak. Suhu badan yang yang menaiki ambang batas normal bisa menggetarkan seluruh badan yang tampak. Pikiran yang kacau, perasaan yang kalut, tensi darah, detak jantung, suhu badan dan hal-hal yang ada, namun tidak tampak dalam diri manusia lebih menentukan daripada hal-hal yang tampak..yang jika disadari, ternyata hanya kemasan yang terus menerus menuntut dipercantik dengan aksesoris dan kepalsuan.

Jika masih hanya memerhatikan yang tampak, tetapi mengabaikan yang tidak tampak, bagaimana bisa jiwa raga mencecap nikmat mukjizat Alloh? Al-Qur’an Al-Karim berisi kemurnian dan kesejatian, bukan aksesoris dan kepalsuan. Disebut Al-Qur’an bukan karena sampul yang berkulit tebal dan didandani bagus, tetapi karena kandungannya yang murni dan terjaga kemurniannya, tatkala haus, bukan gelas yang sesungguhnya paling utama, tapi Air. Kesejatianlah yang melegakan dahaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *