hidup di alam gaib

*Mengenal Konsep Amalan Untuk Hidup di Alam Ghoib*

Yang pertama, syahadatnya adalah sasahidan (sudah pernah saya tulis bab tersebut). Sasahidan hanya diucapkan dalam hati. Yang kedua, melakukan dzikir rasa (sudah pernah juga saya tulis). Namun, akan lebih saya rinci lagi, ketika menghirup napas dan diiringi ucapan batin “huuu”, maka napas dan “huuu” itu harus ditarik dari puser (jawa, wudel), menembus langit-langit dan diteruskan hingga ubun-ubun. Berhenti dan ditahan sejenak. Kemudian napas dihembuskan diiringi dzikir “yaaa” dalam batin sambil menurunkan dari ubun-ubun melalui tulang belakang dan manakala posisinya kira-kira 3 cm dibawah puser, dibelokkan menuju puser. Ini disebut satu siklus, selanjutnya dilakukan hingga puluhan kali dan irama napas semakin diperlambat.

Yang ketiga, menjalani laku hidup dalam kehidupan sehari-hari. Laku tersebut merupakan akhlaq al-karimah atau budi pekerti yang mulia. Dan itulah pesan agama sebenarnya. Agama diturunkan bukan untuk mendorong bergeloranya emosi seperti yang terjadi dewasa ini. Dengan demikian, perilakunya merupakan perwujudan dari seluruh Rukun Islam. Semua bentuk simbolik dalam Rukun Islam sudah menjadi bentuk nyata perilaku lahiriah.

Sholat nya sudah menjadi perilaku yang terpuji. Zakatnya sudah menjadi perilaku belas kasih yang sejati. Wujud puasanya sudah tercermin dalam kehidupan sehari-hari, yaitu menjalani hidup tanpa petunjuk dari luar dirinya. Dengan kata lain, ia telah berakhlak Alloh sesuai dengan sabda Rosululloh, “takhollaquu bi akhlaaq Alloh”, berbudi pekertilah dengan budi pekerti Tuhan. Artinya, jadikanlah sifat Alloh sebagai “sifatmu”. Hajinya sudah berkiblat kepada Alloh secara langsung. Ya…, ia menghadap Alloh yang bersemayam di dalam lubuk hati yang paling dalam.

Yang keempat, sholat daim. Tiada dualitas dalam ibadah. Ketika memuji-Nya, tidak lagi berupa tindakan yang diinginkan atau kehendaki. Semua tingkah laku dan tindakannya semata-mata perwujudan dari keterpaksaan sejati yang lahir dari Kehendak-Nya. Jasmani hanyalah wadah bagi Qudrot dan Irodat-Nya sehingga perilakunya manifestasi dari al-ism al-‘azham atau nama-nama Agung-Nya.

Yang kelima, sholat atunggal atau sholat satu rakaat (mesti bingung bagi yang belum paham, siap dihujat pokok e) yang dilakukan pada tengah malam saat purnama penuh. Sholat ini sebenarnya merupakan teknik untuk menarik cahaya rembulan untuk kesejahteraan hidup. Tata caranya tidak bisa saya tuangkan karena merupakan hal yang pribadi sifatnya, mungkin bagi yang sepemahaman akan mengerti alasan saya.

Begitu banyak yang ingin saya tuangkan, namun sudah saatnya untuk kembali ke habitat 😁, mohon maaf atas segala kekurangan-kekurangan yang ada, salam santun selalu seduluran selawase

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *