*Mengenal Konsep Sang Penjaga*

Secara eksplisit Al-Qur’an memang tidak pernah menyebutkan adanya ayat yang terjemahan nya adalah “sosok yang mengasuh”. Tetapi, di beberapa ayat disebutkan bahwa setiap manusia ada yang menjaga. Oleh karena keterbatasan pengetahuan bangsa Arab tentang sosok yang mengasuh dirinya itu, maka biasanya kata “penjaga” diterjemahkan sebagai “malaikat penjaga”. Oleh karena sudah menjadi rahasia umum bahwa malaikat itu tidak dapat dilihat, alias ghoib, maka umumnya orang Islam tak berniat atau berusaha untuk mengetahui yang mengasuh dirinya. Bahkan upaya untuk mengetahui siapa yang mengasuh dirinya dianggap mengikuti ajaran sesat.

Padahal, pada ayat yang lain disebutkan bahwa penjaga itulah yang akan memberitahu dirinya, kapan dirinya akan meninggal dunia. Penjaga itu memang diutus Tuhan Semesta Alam untuk menjaga, bukan untuk mengawasi. Penjaga inilah yang didalam Surah Al-Thooriq [86]:4 disebut sebagai yang mengasuh/memelihara. Artinya, setiap orang ada penjaganya. Dan, berdasarkan Surah Al-An’am [6]:61, penjaga itu pula yang memberitahu saat seseorang (dirinya) meninggal dunia.

Setiap orang telah diberi penjaga oleh Tuhan Yang Maha Esa. Penjaga itu bertugas untuk mengasuh, momong, bukan sebagai petugas keamanan 😁 yang melindungi tuannya dari segala bahaya. Yang mengasuh itulah yang sebenarnya memberikan arah pada yang diasuhnya agar tidak salah jalan. Dalam bahasa kita saat ini arahan itu disebut “suara hati nurani”. Yang mengasuh itulah yang memberitahu agar yang diasuhnya tetap dalam keselamatan. 🤗

Tetapi, hawa nafsu manusia menutupi sang pengasuh atau sang penjaga. Akibatnya, manusia yang sudah tertutup oleh hawa nafsunya tidak bisa mendengarkan suara pengasuhnya. Dalam bahasa Al-Qur’an, manusia yang menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-Nya, telah menjadi Kafir dan Musyrik. Menjadi Kafir karena sudah menutup diri dari petunjuk Tuhan yang disampaikan melalui pengasuhnya dan menjadi Musyrik karena telah ber Tuhan kepada hawa nafsunya, selain bertuhan kepada Gusti Alloh.

Tugas Sang Pengasuh itu ternyata semenjak manusia dilahirkan hingga datang kematian bagi dirinya. Artinya, Sang Pengasuh itu memegang catatan lengkap tentang apa yang harus dilakukan oleh diri kita masing-masing. Ketika manusia menjelang ajalnya, Sang Pengasuh itu pun memberitahu orang yang diasuhnya. Namun, hawa nafsu menutupi suara Sang Pengasuh, sehingga banyak manusia – kalau tidak dapat dikatakan sebagian besar – yang tidak mendengarkan perihal batas akhir, atau dead line dirinya. Ya, Sang Pengasuh tidak pernah lalai akan kewajibannya.

Hal diatas merupakan salah satu maksud untuk memperoleh hasil dalam Sembah Kalbu, oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari tetap dituntut awas dan sadar (eling lan waspodo). Dengan demikian, meditasi itu tidak hanya duduk disuatu tempat pada waktu tertentu, tetapi sikap hidup sehari-hari pun harus merupakan rangkaian meditasi.
Agak semangat nulis karena ada masukan dari sahabat 😁🤗,, jika belum siap untuk melakukan meditasi dengan benar, maka yang diperlukan terlebih dahulu adalah melaksanakan budi pekerti yang baik, sehingga batin secara bertahap menjadi bersih, bebas dari segala pikiran atau perasaan. Laku lahir diperlukan untuk menunjang laku bathin, dhohir dan bathin berjalan seiring. Inilah prinsip dasar untuk meneguhkan hati dalam melaksanakan meditasi, manekung dan maneges yang didahului dengan maningal.

Konsep diatas adalah bagian dari pemahaman saya, sengaja ditulis dengan gaya bahasa budaya. Segala kekurangan yang ada adalah murni kedangkalan pengetahuan saya, sekedar berbagi sekiranya ada manfaat bagi saudara-saudara dan sahabat-sahabat sekalian. Insyaa Alloh saya menulis Lillah, tanpa ada maksud menggurui maupun mengajari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *