Melakukan perjalanan ke dalam diri dengan daya, rasa, karsa dan cipta. Mulai dari jalan sepi, ke jalan sunyi, menuju jalan hening, sampai jalan suwung (kosong). Jalan sepi ditempuh dengan sibuk menyendiri, menjauh dari keramaian, rame ing sepi (ramai dalam sepi). Ditahap inilah, daya diolah. Jalan sunyi dilakoni dengan kembali ke keramaian, rame ing rame (ramai dalam keramaian). Di fase inilah, rasa diasah dengan praktik keseharian. Jalan hening ditapaki dengan menyepi dalam keramaian, sepi ing rame (sepi dalam keramaian). Disini, karsa ditetapkan. Jalan suwung dicapai dengan menyadari sepi dan ramai sungguh tiada beda. Mencipta di semua keadaan. Berkarya sepanjang masa.

Salah seorang guru saya mengajarkan tentang bagaimana nutup babagan howo songo (menutup lubang sembilan), yaitu dua gua telinga, dua ceruk mata, dua liang hidung, satu nganga mulut, satu lubang kemaluan dan satu lubang dubur/anus. Menutupnya dengan pembacaan basmalah yang sepenggal-sepenggal, dari sembilan penggal bis-mil-lah-hir-roh-man-nir-roh-him. Dalam semedi, bis untuk menutup gua telinga kanan, mil untuk ceruk mata kanan, lah untuk ceruk mata kiri, hir untuk gua telinga kiri, roh untuk liang hidung kiri, man untuk liang hidung kanan, nir untuk nganga mulut, roh untuk lubang kemaluan, dan him untuk lubang anus/dubur. “Tidak untuk di ijazahkan (Dilarang Keras Mengamalkan!!).

Dalam semedi, manusia menyadari ada-nya. Manusia mendiami dirinya sendiri dengan mendiamkan dirinya sendiri untuk merunut kembali titik berangkatnya : titik diam. Dalam diam itulah manusia menyadari gerak geriknya sendiri. Menyadari deru-napas, yang selama hidup ia bernapas tanpa menyadari irup-embus napas sendiri. Menyadari detak-jantung, yang selama hayat ia harus bergerak lebih cepat dari kewajaran untuk dapat merasakan detak-jangung berdegup. Menyadari desir-darah, yang sepanjang umur tidak pernah ia hiraukan, kecuali jika tensi naik ahahaha. Menyadari pori-pori yang sepanjang usia dirasakan hanya jika berkeringat; atau merasakan merinding jika merespons hal yang gaib.

Lebih dari menyadari ada-nya, manusia dalam semedi akan menyadari ketiadaannya. Mengalami pencerahan sesungguhnya ia adalah makhluk tiada. Ketiadaan itu dapat digolongkan menjadi dua : tiada yang mengada-ada dan tiada yang apa adanya. Tiada yang mengada-ada inilah yang berusaha terus-menerus mendapatkan pengakuan. Padahal, tiada yang apa adanya merupakan hakikat dari Sang Aku. Cerminan dari Sang Aku yang bermula dari Dia yang Tiada yang Ada selain yang Ada itu (tambah kucluk ora ki yo).

Alloh, Dialah yang Tiada yang Ada selain yang Ada itu, dan manusia adalah makhluk tiada. Manusia ada bukan karena ada-nya sendiri. Ia ada karena Alloh menciptakannnya, manusia adalah anak-cucu Adam. Sedangkan Adam, menurut hadis qudsi, inna ‘l-looha kholqo Adam ‘ala shurotihi, dicipta oleh Alloh sesuai citra-Nya. Perlulah kiranya digarisbawahi bahwa Adam diciptakan-Nya bukan berdasarkan Diri-Nya, melainkan berdasarkan Citra-Nya. Berdasarkan Cerminan-Nya, Yang Bercermin adalah Nur Alloh, Cermin-Nya Cinta, dan Cerminan-Nya adalah Nur Muhammad. Materi penciptaan badan jasmani Adam dan anak-cucu nya – adalah Nur Muhammad, meski terdapat irisan Nur Alloh sebagai materi bagi penciptaan badan ruhaninya.

Dari Nur Muhammad, tercipta esensi angin yang mewujud napas yang bersarang di paru-paru; esensi air yang menjelma sumsum dalam tulang; esensi api berupa darah yang berlabuh di jantung; dan esensi tanah yang menjadi daging dibungkus oleh kulit. Tak hanya membangun jasad, keempat anasir ini juga membentuk nafsu dalam diri manusia. Esensi angin mencipta nafsu kebaikan (nafsu muthmainnah), muncul dari indra penciuman, yang darinya segala iktikad baik dan klaim kebenaran terlahir. Esensi air melahirkan nafsu gairah (nafsu sufiyah), muncul dari mata, yang darinya segala birahi dan rasa keindahan tergetarkan. Esensi api menggetarkan nafsu marah (nafsu amaroh), muncul dari telinga, yang darinya segala ambisi dan kebencian tersulut. Esensi tanah menyulut nafsu tamak (nafsu lawwamah), muncul dari mulut, yang darinya segala lapar-dahaga dan rasa dendam terlampiaskan.

Kita perlu memakrifatkan diri (mengenal diri) agar tidak terhijab oleh ketidaktahuan atau keangkuhan diri, seolah kita sudah mampu memahami keberagaman kita, padahal kita masih jauh berada di “tepian makrifat”. Menempuh jalan sunyi. Suwung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *