ا ن كل نفس عليها حافظ
“Sesungguhnya pada setiap diri itu ada penjaganya.”

Keberadaan penjaga atau pengasuh itu gaib. Mereka, meskipun berada bersama dengan diri kita, tapi tak dapat kita saksikan dengan mata kepala. Mereka pula yang pertama – tama mengasuh keberadaan kita secara gaib. Dalam tradisi jawa, mereka kita kenal sebagai kaki among dan nini among, mereka berdua juga disebut saudara marmati, pengasuh yang memberikan kasih sayangnya.

Nah, upaya yang disertai dzikir atau meditasi sebenarnya usaha untuk mengenal pengasuh gaib kita. Bila kita sudah mengenalnya, mereka akan membantu perjalanan spiritual kita untuk mencapai kehidupan spiritual di alam yang lebih tinggi. Tahap ini pun dalam ajaran tertentu diabaikan, karena pada tahap ini manusia masih terikat oleh keinginannya meski berupa keinginan “spiritual”! Pada tahap ini kita dituntut untuk bisa hidup hening, bening, jernih hati dan pikiran.

Tahap ini merupakan tahap yang harus dilalui. Tanpa melalui tahap ini, jelas kita akan kesulitan dalam melaksanakan tahap yang lebih tinggi. Diabaikan karena sudah dilalui, mbah-mbah sering mengingatkan, setelah mengetahui, mengalami suatu tahap..bersegera lah meninggalkan karena tahap tersebut bukanlah merupakan tujuan. Kebanyakan manusia terlena dan enggan meninggalkan dikarenakan merasa hal tersebut sudah menjadi tujuan. Menjelajah alam astral, berkomunikasi dengan mereka, bisa menerawang keadaan seseorang maupun benda-benda gaib merupakan sedikit contoh dari godaan-godaan yang ada.

Namun, kembali lagi ke niat awal semula (lillah atau ingin bisa begini dan begitu). Disitulah mbah-mbah sering mengingatkan untuk selalu dan selalu memperbagus niat, senantiasa berusaha menjaga hati. Ojo gumunan (jangan mudah terpesona/takjub),begitulah nasihat terkenal dari Kanjeng Sunan Kalijogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *