*Mengenal Konsep Angan-Angan Didalam Pikiran*

Hidup dilengkapi dengan pancaindra. Pancaindra hanyalah alat atau sarana bagi sang hidup. Tetapi, pancaindra ternyata bukan miliknya. Ia hanya barang pinjaman. Bila pancaindra itu dicabut, maka tak kuasalah hidup kita menahannya. Betul-betul lemah hidup ini, inilah hidup di alam kematian.

Bila pancaindra sudah dicabut, badan jasmani ini akan menjadi bangkai. Jasmani akan kembali ke tanah dan membusuk. Badan ini akan hancur. Dan, bahkan ketika menjadi mayat, badan ini disifati najis, kotor. Kita mengetahui bahwa penglihatan orang tua menjadi kabur, pendengaran berkurang. Penciuman pun jika terkena flu berkurang, kehidupan pancaindra ternyata dihadirkan untuk menyongsong kematian.

Indra memang menerima kesan-kesan dari obyek yang tampak. Kesan-kesan yang diserap ternyata bukan “benda” dalam dirinya sendiri, tetapi hanya fenomena atau penampakannya saja. Padahal dalam hidup ini kita sering terlalu percaya pada indra. Sebelum diketahui bahwa bumi itu bulat, orang beranggapan bahwa bumi itu datar. Bumi datar adalah hasil kesimpulan dari indra, ini semua timbul karena manusia berpedoman pada indra. Indra terlalu lemah untuk bisa dipakai melihat kebenaran.

Selain mata, praktis kesan yang ditangkap oleh indra tergantung pada diri pribadi. Bila ada benda ‘bulat’, semua orang bisa mengatakan itu bulat. Tetapi “bunyi” ledakan, betul-betul tergantung orang yang menyerapnya. Ada yang menyebutnya “dar”, “der”, “dor”, “bang”, dan lain-lain. Bunyi yang sama, tetapi berbeda penangkapannya. Kita sering berebut kebenaran dari hal yang sama.

Langit tampak biru, padahal sebenarnya tak berwarna, dengan mengetahui dan memahami karakter ‘pancaindra’, maka kita dapat menggunakan pancaindra untuk membantu upaya kita mencari jalan hidup, kebenaran. Tetapi kita tidak boleh percaya begitu saja apa yang ditangkap pancaindra.

Dunia adalah angan-angan dalam pikiran. Bila sekarang ada, sesudah itu tak ada. Ujud dunia tidak tetap, terus berubah. Dunia ini seperti keberadaan di alam mimpi, adanya cuma di “pikiran”, tetapi kita sering menghadapinya sebagai kenyataan.

Cuma dipikiran? tetapi, ketika seseorang itu sedang bermimpi,maka dirinya seolah-olah mengalami sendiri. Ia merasa hidup dan terlibat didalamnya. Sama seperti kita sedang bermain sandiwara. Kita menghayati pementasan tersebut, kita merasa sebagai “tokoh” yang kita perankan. Bahkan penonton merasa melihatnya sebagai kenyataan jika “action” nya, aktingnya bagus. Nah, bayangan, angan-angan, lamunan, kalau tak “disadari” bisa membuat yang mengalaminya itu menanggapi sebagai kenyataan.

Dalam keadaan melamun atau pikiran lagi melayang-layang, muncul “kehidupan” didalam pikiran. Ketika itu, orang yang mengalaminya merasa senang, riang gembira, susah, marah dan lain-lain. Oranglain tidak tahu apa yang sedang dialaminya, oranglain memandangnya ia berada didunia khayal. Tetapi bagi yang mengalaminya, lamunan atau pikiran yang melayang-layang itu dirasakan sebagai kenyataan. Bahkan jika ada orang yang mengganggunya pada saat itu, ia bisa marah-marah.

Sesuatu yang timbul didalam pikiran, jangan dianggap sebagai kenyataan. Tulisan diatas memang terkesan seperti menggarami lautan, sedikitnya berusaha berbagi kedangkalan pengetahuan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *