Ilmu itu sejatinya adalah cahaya, cahaya dari ilmu energinya sangat dahsyat. Dia memang sifatnya menarik (tarik-menarik) dengan energi cakra seseorang. Nah ketika saya menulis atau menyampaikan kalam berbentuk tulisan. Maka itu sejatinya saya mencoba mewujudkan dan merefleksikan kalam kalamulloh dalam bentuk dzohir yang bisa di terima indra basyariyah. Karena lahiriyah ya sifatnya menarik yang lahiriyah. Bathiniyah ya tarikannya kepada bathiniyah. Itu kesejatian nya, tapi asalkan kalian tau, bahwa sejatinya apa yang tertulis dan terucap itu bukanlah inti dari ilmu itu sendiri. Itu hanya refleksi arah dan maksud dari ilmu itu.
Apa yang kita tangkap melalui panca indra basyariyah kita itu sifatnya sangat rendah. Makanya kaum spiritualis itu kegemarannya kenapa dia suka tertawa? Karena terkadang ada orang tidak tau tapi sok tau yang mana dia lebih tau dan sudah tau jauh jauh hari.

Coba kita perhatikan Manusia Bodoh versi Al Hikam sebagai berikut;

“Sebodoh-bodoh manusia adalah orang yang meninggalkan keyakinannya karena mengikuti sangkaan orang-orang.”

Syekh Ibnu Athai’illah as-Sakandari menjelaskan, bahwa keyakinan yang datang dari diri sendiri lebih utama ketimbang anggapan-anggapan yang bersumber dari orang lain meski dalam jumlah yang banyak. Level sangkaan (dhann) ada di bawah yakin (yaqîn). Kebenaran tak tergantung pada seberapa banyak orang menganggapnya benar. Karena itu, menurut Syaikh Ibnu Athaillah, mengabaikan keyakinan sendiri lantaran mendengarkan sangkaan kebanyakan orang adalah sikap yang bodoh. Dengan demikian, menilai benar sesuatu semestinya karena sesuatu itu memang diyakini benar, bukan sebab orang-orang menganggapnya benar. Di kehidupan sehari-hari sering kita dapati fakta yang bertentangan dengan idealisme ini, di mana banyak orang membenci sesuatu atau seseorang hanya karena banyak orang yang juga membenci sesuatu atau seseorang itu.

Jadi ya memang keyakinan itu kalau di jabarkan berasal dari diri yang TUNGGAL.
Di katakan iman itu kan cahaya. Kamu di suruh cari cahaya ke imanan. Dia hanya jalan. Iman itu jalan. Kamu di suruh carilah cahaya itu, maka nanti lama lama kamu akan menjadi cahaya dan menyatu dengan sumber cahaya, jika saat kamu sudah menjadi cahaya dan menyatu dengan cahaya…maka kamu tidak perlu bersinar. Ini maknanya cahaya ke Wali an seseorang di tutupi oleh Alloh agar orang lain tidak bisa melihatnya. Di situlah di katakan saat sudah menjadi cahaya maka tidak perlu bersinar dan menunjukkan sinar itu.

Jika seseorang sudah saling tunjuk Aku ya Engkau, Engkau ya Aku, Aku dan Engkau adalah Kita. Kita itu Tunggal (Esa). Ini kalau dalam rumus Jawa di namakan Adhep-Idhep Aku. Diri dengan Diri saling berhadapan. Melihat Diri sendiri. Saat seseorang sudah mencapai maqom ini seolah olah ngomong nya ngawur, tak kasih contoh: “Yang menyembah dan yang di sembah adalah satu…”
Pernyataan itu, sangat di tentang oleh banyak kalangan Ulama, itu sering di katagorikan oleh golongan mereka sebagai pemahaman wahdad al wujud atau wahdaniyah. Justru mereka ini (golongan yang masih terhijab) menganggap bahwa paham ini adalah ajaran sesat, akan tetapi tafsir dan terkaan mereka sendirilah yang sejatinya sesat. Mereka menganggap bahwa Alloh dan makhluk nya itu bersatu dan menjadi satu. Sesuai ajaran Raden Abdul Jalil yaitu Manunggal. Jadi siapa yang bilang bahwa Manunggal itu adalah bersatunya antara si hamba dengan makhluk? Bahkan saya pun tidak sama sekali membenarkan itu.
Manunggal itu, sirna nya atau kefana’an diri si hamba dan menyatakan bahwa tidak ada yang wujud setiap apa apa yang ia lihat ilalloh (kecuali Alloh), penglihatan inilah yang Alloh panggil di dalam Al Qur’an dengan kata kata yang begitu mesra “wahai orang orang yang mempunyai penglihatan” li Ulil Abshoor.
Tak kasih contoh yang lebih simpel gambaran dari golongan Ulil Abshoor ini, bahwa seumpama saya sedang macul di sawah atau mencangkul. Nah, kesadaran bathin saya atau penglihatan bathin saya (peninggal ati) menyadari bahwa hidup saya ini kan cuma amanah (titipan) jadi segala yang terlaku dari seluruh aktifitas hidup saya ini kan yang melakukan si Ruh Nya Alloh ini yang di titipkan ke saya, jadi karena saya cuma di titipi apakah saya pantas mengakui bahwa itu atau Ruh itu punya saya? Itu kan Ruh nya Alloh. Titipan Alloh. Kemudian kesadaran bathin saya mengakui bahwa berarti yang sedang macul ini hakekatnya ya si Ruh itu ya? Jadi jasad ini kalau di tinggalkan si Ruh kan mati tidak bisa bergerak. Itu hakekatnya makhluk. Mati tidak bergerak. Jika sifat Alloh adalah Maha Hidup maka sifal mohal nya makhluk adalah mati.
Jadi saat sifat si hamba ini muncul atau pengakuan bahwa yang macul ini adalah aku hamba, saat itu Alloh tiada dalam penglihatan hatinya, saat kesadaran bathin menyatakan hadirnya Alloh yang memiliki sifat gerak, maka saat itu si hambalah yang fana.
Jadi salah satu harus di fana’ kan. Salah satu harus di kalahkan sifat pengakuan hamba atau sifat Alloh yang di akuinya?
Berarti ternyata kesadaran bathin ini tidak lagi malahirkan pengakuan bahwa geraknya macul itu adalah geraknya dirinya sendiri yang macul, tapi karena itu titipan itu di kembalikan kepada Alloh dan di akui bahwa itu hakekatnya adalah geraknya Alloh. Saat itulah di katakan sirna atau fana nya si hamba.
Ini di benarkan dalam berbagai kitab yang kita sudah pelajari karya karya Imam Imam besar. Syaikh Abdul Qodir Jaelani, Syaikh Ibnu Atho’illah, Abu Zayid Al Busthomi, Syaikh Siti Jenar, Sunan Kalijaga dalam kidung nya. Imam Ghozali. Mereka semua adalah Ulama Ulama besar di zamannya, bahkan ada yang di juluki sebagai hujatul Islam. Mereka bertahun tahun bahkan puluhan tahun menggali ilmu agama Islam. Syaikh Ibnu Atho’illah bahkan terkenal di zamannya sebagai Ulama fiqih. Dan masih banyak Ulama Ulama yang membenarkan pemahaman ini.
Apa yang terjadi?
Umat zaman sekarang baru belajar agama kemarin sore sudah berani membantah bahkan mentakfir ajaran mereka para Ulama Alloh ini adalah aliran sesat. Itu disebabkan kurangnya mentafakuri dalam menggali ilmu Alloh yang sesungguhnya. Dalil yang mendukungnya sangat banyak di dalam Al Qur’an.
Memang dalam tahapannya seseorang dalam laku tasawuf seolah tidak lagi beriman kepada Alloh. Tapi sejatinya tidak demikian, ini terjadi karena naiknya level pemahaman spiritualnya dalam ilmu ketuhanan sudah SE OLAH OLAH keluar dari koridor hukum syari’at.

Jadi, manusia di katakan se akan akan sudah tidak memerlukan iman. Karena iman itu ibarat jalan. Ibarat orang yang sedang ber-jalan, ketika telah melalui suatu jalan, apakah memerlukan jalan yang sudah di laluinya itu lagi?
Jawab: bagi dirinya sudah tidak di perlukan karena si penempuh jalan Alloh ini sudah melewatinya. Hanya saja dia perlu mengingatkan dan menunjukkan jalan tersebut untuk saudaranya yang lain agar sampai kepada tujuan.
Tapi ciri ciri bahwa masih adanya iman dalam diri seorang tersebut adalah selalu menyebut nama Alloh dan tidak ada nama lain yang ia sebut. Dan selalu mengajak mu kepada Alloh.

Itu makanya Rosululloh SAW bersabda:
“Aku adalah pintunya ilmu, dan Ali adalah kuncinya”.

Seluruh akhlak Baginda SAW adalah akhlak akhlak yang seluruhnya sempurna, baik dari sudut pandang syari’at maupun hakekat.
Hakekat ilmu Rosululloh SAW di wujudkan menjadi amal berupa akhlakul karimah kepada siapapun makhluk Alloh tidak terkecuali manusia. Ini cerminan bahwa sifat basyariyah Nabi SAW sudah ke fanaan, selalu ia lihat adalah Alloh, hidupnya Alloh, sifat sifat Alloh, dan af’al (perbuatan) Alloh. Laa maujudan ilalloh. Tidak ada yang wujud dalam pandangan golongan orang orang seperti ini hanya lah Alloh.

Robbiii zidniii ‘ilma warzuqniii fahma..
Yaa Alloh tambahkanlah aku ilmu dan berikanlah aku rizki berupa kepahaman..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *