Sekedar berbagi..

PUASA NGEBLENG: LAKU PARA PERTAPA

Puasa pada umumnya dimulai pada saat subuh dan diakhiri pada saat maghrib. Malam harinya bebas makan dan minum. Puasa 1 hari berarti selama 1 hari berpuasa dari subuh sampai maghrib, malam harinya bebas makan-minum. Puasa 3 hari berarti selama 3 hari berpuasa dari subuh sampai maghrib, malam harinya bebas makan-minum. Puasa 7 hari berarti selama 7 hari berpuasa dari subuh sampai maghrib, malam harinya bebas makan-minum. Puasa Ngebleng tidak seperti itu. Puasa Ngebleng adalah puasa penuh selama sehari dan semalam. Puasa Ngebleng 1 hari berarti puasa penuh 1 hari 1 malam berturut-turut tanpa putus. Puasa Ngebleng 3 hari berarti puasa penuh 3 hari 3 malam berturut-turut tanpa putus. Puasa Ngebleng 7 hari berarti puasa penuh 7 hari 7 malam berturut-turut tanpa putus. Apa benar ada puasa Ngebleng 7 hari 7 malam berturut-turut tanpa putus? Ada yang sanggup? Juga adakah puasa Ngebleng 40 hari 40 malam berturut-turut tanpa putus? Siapa yang sanggup?
Ketika seseorang berpuasa Ngebleng, pada hari pertama puasa dia akan merasa lapar dan haus, sama dengan yang dialami orang lain yang menjalani laku puasa biasa. Pada hari kedua, orang tersebut akan merasakan tubuhnya panas, mungkin juga membuatnya sulit tidur pada malam hari. Karena tidak ada makanan dan minuman yang masuk, pada hari kedua tubuhnya mulai membakar cadangan makanan (air, lemak, protein, gula, dsb.) untuk dikonversi menjadi energi dan zat-zat yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuhnya. Pada hari ketiga, panas tubuhnya mereda dan berkurang, rasa lapar dan haus hilang. Yang terasa hanya lemas karena perutnya kempis tak terisi makanan.
Puasa Ngebleng 3 hari ini biasanya dilakukan oleh orang-orang yang bersemedi atau menyepi (walaupun di dalam rumah), tidak menonton hiburan, tidak mendatangi tempat-tempat keramaian, dan tekun berdoa/berzikir/berwirid. Pada hari ketiga itu, daya sukmanya akan menguat dan memancar cukup jauh. Daya yang memancar dari sukmanya itu sampai bisa menarik perhatian roh-roh leluhurnya, sehingga disadari ataupun tidak, banyak leluhur yang mendatangi pelaku puasa untuk mengetahui apa tujuan dari lakunya dan akan berusaha membantu mewujudkannya. Pada hari ketiga, disadari atau tidak, sukma pelaku puasa itu memancarkan aura niskala yang menyebabkan roh-roh tidak tahan berada di dekatnya. Berbeda dengan puasa orang-orang yang menjalani ilmu gaib dan ilmu khadam yang dapat mengundang roh-roh gaib datang mendekat, puasa Ngebleng ini justru akan mengusir keberadaan roh-roh lain dari tubuhnya dan dari sekitar orang itu berada. Ini disebabkan daya pancaran sukmanya.
Itu baru puasa Ngebleng 3 hari, belum puasa Ngebleng 7 hari, apalagi puasa Ngebleng 40 hari, seperti yang biasa dilakukan oleh tokoh-tokoh kebatinan dan pertapa zaman dulu. Orang-orang yang terbiasa melakukan puasa ini akan memiliki daya sukma yang luar biasa, yang pancaran niskalanya bahkan menyebabkan roh-roh gaib kelas atas setingkat dewa dan buto (raksasa) pun tidak tahan berada di dekatnya dan tidak akan berani datang mendekat dengan maksud menyerang. Pancaran sukma pelaku puasa Ngebleng itu menghebohkan alam gaib. Di pewayangan pun diceritakan, ketika ada seseorang yang gentur menjalani laku puasa, tapa brata, dan semedi, alam kayangan menjadi panas dan goncang, membuat para dewa gelisah, sampai-sampai mereka mengutus dewa lain atau bidadari untuk menggagalkan tapa brata orang tersebut, dan mereka akan memberikan apa saja yang diinginkan orang itu asal mau menghentikan tapanya. Karena itu, saat menjalani puasa Ngebleng, orang-orang zaman dulu biasanya menyepi di dalam rumah, gua, hutan, atau gunung, supaya tidak ada yang mengganggu.
Daya pancaran sukma pelaku puasa Ngebleng itu sungguh luar biasa, sehingga pada zaman dulu banyak tokoh kebatinan dan pertapa yang linuwih, waskita, dan mumpuni dalam ilmu kesaktian. Sukma mereka penuh kekuatan gaib, sehingga mereka pun mampu melakukan moksa (berpindah bersama raganya ke alam roh tanpa melalui proses kematian). Itu adalah hal yang biasa. Mereka mampu moksa dalam kondisi bertapa. Orang-orang itu, karena kekuatan sukmanya, tidak lagi membutuhkan khadam makhluk halus untuk kekuatan ilmunya. Kekuatan sukmanyalah yang melakukannya. Tetapi jika ada sosok gaib yang mau datang untuk menjadi khadam pendampingnya, maka hanya sosok-sosok gaib yang setingkat dengan kekuatan sukmanya saja yang akan datang menjadi pendampingnya, bukan sosok-sosok gaib kelas rendah yang tidak tahan dengan pancaran energi sukmanya.
Puasa Ngebleng melambangkan kekuatan tekad dan niat seseorang untuk menggapai suatu tujuan, cita-cita. Di masa lalu, banyak pertapa yang berpuasa Ngebleng tidak menghentikan tapa dan puasanya sebelum keinginannya terkabul (sampai turun wangsit bahwa permintaannya dikabulkan).
Puasa Ngebleng terkait dengan daya niskala sukma manusia. Karena itu, daya dalam puasa Ngebleng tidak dapat dibandingkan dengan bentuk puasa lainnya. Semakin gentur laku puasa Ngebleng seseorang, semakin kuat sukmanya dan semakin kuat pula energi niskalanya. Puncak kekuatan sukma terjadi pada saat seseorang berpuasa Ngebleng, sedangkan pada hari-hari selanjutnya, kalau sudah tidak lagi melakukan puasa, kekuatan sukma itu akan menurun lagi. Karena itu, para pertapa zaman dulu menjadikan laku puasa Ngebleng sebagai ritual yang akan selalu dilakukan secara berkala. Jika mereka melatih ilmunya atau menekuni suatu ilmu baru, mereka biasanya melakukannya sambil berpuasa.
Jika puasa Ngebleng ini dilakukan orang yang masih awam dengan ilmu kebatinan, mungkin daya sukmanya tidak akan banyak dirasakannya. Walaupun begitu, pancaran daya sukmanya akan menjauhkan dirinya dari roh-roh gaib yang bersifat mengganggu. Di sisi lain, daya sukmanya itu akan membuat niat dan tekadnya menguat, sehingga keinginan-keinginannya menjadi lebih mudah terwujud, ketajaman dan kepekaan batinnya semakin tinggi.
Karena semakin banyak orang meninggalkan dunia kebatinan, maka puasa Ngebleng ini pun semakin ditinggalkan. Bahkan para praktisi ilmu kebatinan dan ilmu khadam seringkali meringankan laku puasanya. Misalnya untuk mendapatkan suatu ilmu tertentu, mereka cukup puasa biasa saja dari subuh sampai maghrib, atau hanya puasa berpantang makanan tertentu saja, yang dilakukan selama 3 hari, 7 hari, 21 hari, atau 40 hari, dan selama berpuasa itu mereka membaca wirid tertentu sebagai amalannya. Selama orang itu berpuasa dan berwirid, tubuhnya akan memancarkan energi tertentu, pikirannya akan memancarkan gelombang pikiran tertentu. Pancaran energi tubuh dan gelombang pikiran inilah yang seringkali mengundang datangnya makhluk halus tertentu kepada pelaku puasa biasa tersebut.
CATATAN: Kami berbagi pengetahuan ini agar Anda mengenal laku dan ajaran leluhur Nusantara. Jika Anda bermaksud menjalaninya, kami tidak menyarankannya tanpa petunjuk atau pendampingan dari seorang guru spiritual yang mumpuni. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *